Acung Jempol Untuk Malin Kundang dan Siti Nurbaya
SEPEKAN terakhir ini hingga Senin (24/10) esok, Museum Negeri Jambi menjadi tempat digelarnya Harmoni Nusantara. Ini adalah Pameran Bersama 29 Museum Se-Indonesia. Kali ini, benda-benda koleksi yang dipamerkan adalah keragaman alat musik tradisional yang ada di Nusantara.
Jumat (21/10) sore lalu, Tribun mengajak Citra Riwin Duri mengunjungi Auditorium Museum Negeri Jambi, tempat hampir 200 item alat musik dari Aceh hingga Maluku dipajang selama pameran. Sehabis melihat beberapa display, Tribun dan pemilik panggilan akrab Cii ini lantas mengobrol sembari duduk di dua kursi plastik di tengah auditorium.
Tepat di seberang kursi tempat kami duduk ada satu televisi layar datar, pemutar cakram video digital, juga seperangkat sistem tata suara. Perangkat audio video tersebut menyajikan rekaman lagu-lagu daerah Jambi dan rekaman alat-alat musik yang dipamerkan.
Di dalam obrolan, dengan jujur Cii berkata kepada Tribun bahwa ia sesungguhnya cenderung melihat museum sebagai tempat yang kurang menarik untuk dikunjungi secara khusus.
Diawali dengan sedikit senyum, ia berkata bahwa museum dan tempat bersejarah yang relatif ia akrabi di Jambi ini paling sebatas Situs Percandian Muaro Jambi. Kalau tentang komplek percandian yang konon memiliki area terluas di Indonesia itu, Cii malah pernah membuat satu artikel yang lantas dimuat di sebuat situs pariwisata Jambi. Artikel itu ditulis Cii dalam kapasitasnya sebagai Runner Up IV Putri Pariwisata Jambi 2011.
Secara pribadi, Cii memang mengaku menyukai Komplek Percandian Muaro Jambi. Dua hal penerbit ketertarikannya adalah warna merah dari batu-batu bata purba di candi-candi semacam Candi Gumpung, Candi Tinggi dan Kembar Batu. Satu hal lain yang menarik untuknya adalah keasrian lingkungan Candi Muaro Jambi yang berumput hijau dan memiliki banyak pepohonan.
Kekurangtertarikan Cii terhadap museum tak sebatas yang ada di Jambi. Berulang kali bepergian ke luar Jambi, baik itu berlibur atau mengunjungi keluarga dan kerabat, contohnya ke Padang, Jakarta, dan Bandung, gadis yang bakal menjalani ujian skripsi pada pekan ini tak pula mengkhususkan diri untuk mengunjungi museum.
“Aduh gimana ya museum itu terus terang kesannya untuk saya monoton soalnya,” kata Cii setelah sedikit menghela nafas. Keengganan tersebut kian menguat di diri Cii karena ditengarainya sejumlah benda yang dipamerkan untuk pengunjung di museum adalah sekadar replika.
Melekat
Obrolan Tribun dan Cii kemudian terasa lebih encer ketika kami berdua sama-sama saling membicarakan sejumlah cerita rakyat yang beredar di Sumatera Barat. Cii dan Tribun boleh dibilang sama-sama mengacungkan jempol atas kecerdasan orang Sumatera Barat menjadikan cerita rakyat mereka semacam Siti Nurbaya dan Malin Kundang begitu melekat di kepala orang. Sampai-sampai untuk itu, di Kota Padang tokoh fiktif ciptaan Marah Rusli akhirnya memiliki “makam” dan memilik jembatan tempat pertemuannya dengan kekasihnya, Samsul Bahri.
Lalu, tokoh legenda Malin Kundang pun akhirnya memiliki patung penggambaran dirinya yang dikutuk di Pantai Air Manis. Menurut Cii, menggunakan cerita yang menarik untuk menguatkan daya tarik suatu tempat bersejarah dapat pula ditiru oleh orang Jambi, khususnya untuk menambah pesona Candi Muaro Jambi dan Pulau Berhala.
“Cerita bakal ada manfaatnya, bakal ada dampaknya jika dibanding selentingan. Kalau bisa, cerita semenarik mungkin sampai orang milih liburan di sana,” kata bungsu dari tiga bersaudara tersebut mengemukakan pendapatnya.. (yoseph kelik)
Keyword: citra, citra jambi, citra ppi, Citra Riwin Duri, Jambi
Artikel Berkaitan:
- » Ratusan Pengunjung Ramaikan Hutan Kota
- » Usulan Pembentukan Forum Komunikasi Komunitas Fotografi Beroleh Apresiasi Positif
- » Sultan Luruskan Sejarah Melayu Jambi
- » Batik Jambi Kini Semakin Diminati
- » Dua ‘Pinutur’ Jambi Diusulkan Jadi Maestro Tutur
- » PEDULI ANAK SUKU DALAM DJAMBI
- » Tes Landing Bandara Bungo Batal
- » Manggis Kerinci Diekspor Orang Luar
- » Pembuatan Paspor di Jambi Menurun
- » Pulau Berhala Tetap Masuk RTRW Jambi

