Bangkitnya Seni Budaya Jambi



SENI dan budaya Jambi ternyata memiliki magnet yang luar biasa. Penampilan para seniman dan budayawan Jambi, di Gedung Olah Seni (GOS) Kotabaru, Sabtu malam (7/1) telah membuktikan kalau anak-anak Bumi Sepucuk Jambi Sembilan Lurah ini tidak boleh dianggap enteng.
Hal itu tercermin melalui pertunjukan yang spektakuler, bertajuk Uniquely of Swarnabumi atau “Keagungan Melayu Jambi” yang dihelat dalam rangka anniversary ke 55 Provinsi Jambi.
Kita patut bangga dan haru karena rupanya masih ada yang diandalkan dari Provinsi Jambi yang selama ini seni dan budayanya boleh dikatakan belum digarap maksimal. Padahal potensi seni dan budayanya sungguh luar biasa, tidak bisa dipandang sebelah mata.
Dendang Krinok, Kuau dan Senandung Jolo menjadi pertunjukan pertama yang membawa penonton menyelami kebudayaan Jambi, dengan segala keunikannya. Boleh dikatakan penonton yang memadati GOS malam itu tak beranjak dari tempat duduknya menyaksikan Dendang Krinok, Kuau dan Senandung Jolo ditingkahi jalinan pantun dan syair didendangkan.
Decak kagum penonton membahana ketika paduan suara tiga alunan dendang dimainkan tiga sesepuh dari tiga daerah yang berjauhan, seperti Rena dari Desa Rantau Pandan, Kabupaten Bungo, Jumilah dari Desa Pulau Aro Kabupaten Merangin, dan Maryam dari Desa Tanjung Kumpeh Hilir Kabupaten Muaro Jambi. Mereka bertiga memiliki kekhasan vokal yang sepertinya tak bisa digantikan dengan yang lainnya.
Pendek kata suguhan seni dan budaya Jambi malam itu tampil maksimal. Bagaikan ingin mempertontonkan inilah kebangkitan seni dan budaya Jambi yang selama ini boleh dikatakan belum mampu menjadi tuan rumah di negerinya sendiri. Talenta yang apik tadi dilengkapi lagi dengan pertunjukan Tari Kain Kromong, Rentak Zapin Dana Yadahdan, Lukah Gilo, Swarnabhumi, Tari Marcok, dan Finale.
Penampilan nan apik dan spektakuler yang dikemas unsur modern tersebut dinahkodai oleh Tom Ibnur dari Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Nama “jawara” satu ini memang sudah tidak asing dalam membidani pertunjukan-pertunjukan yang menyedot perhatian dan decak kagum penonton.
Agaknya Tom Ibnur tidak sendirian, dia didukung banyak seniman, budaya serta musisi Jambi di antaranya nama tak asing lagi Wiro A Sani alias Mbah Wiro. Menggandeng musisi muda Jambi, dan dipadu aransemen karya Mbah Wiro, Krinok Fusion menjadi suguhan yang gurih dan enak ditonton.
Apalagi ada sentuhan jazznya yang tidak mengurangi nuansa melayunya semakin elok. Sampai-sampai Gubernur Jambi Hasan Basri Agus, terkesima dan memberi pujian terhadap pertunjukan yang menurut dia tampil beda dan sangat istimewa.  Kata HBA, malam ini tidak ada lagu dangdut dan pop, yang ada adalah seni budaya Jambi.
Sekali lagi ini memang pertunjukan spektakuler. Rasanya selama ini belum ada pertunjukan seni dan budaya yang seheboh malam tadi. Patut kita apresiasi positif bahwa Jambi memang kaya akan akar kebudayaan melayu. Namun tidak lantas kita berbesar diri dengan cara mengklaim diri bahwa pusat kebudayaan Melayu itu di Jambi.
Yang penting teruslah berkarya agar ke depan seni dan budaya Jambi menasional, dan bila perlu mata dunia melirik Jambi. Ada sederet potensi seni dan budaya Jambi yang memerlukan sentuhan tangan-tangan dingin seniman dan budayawan kita. Namun inipun terseok-seok manakala jalan sendiri-sendiri. Apalah artinya kerja keras mereka kalau Pemerintah Provinsi Jambi tidak mensupport mereka. Ayo bangkitlah seni budaya Jambi. (*)
Editor : deddy
Sumber : Tribun Jambi

Keyword: , , ,



Artikel Berkaitan:

Leave a Reply

Copyright © 2010 JTC

Design by Indonesiawebsolusi.com