Kerajinan Tempurung Kelapa Oleh-Oleh Khas Tanjab Barat
PENGRAJIN tempurung kelapa satu-satunya di Provinsi Jambi, KUB “Nyiur Hijau” di Parit-7 Desa Tungkal-I, Kecamatan Tungkal Ilir, Tanjung Jabung Barat (Tanjabbar), Jambi, kewalahan menghadapi pesanan para pelanggannya. Kerajinan dari limbah buah kelapa itu sudah mulai menunjukkan prospek cerah.
Desa Teluk Serdang dan Serdang Jaya, Betara, Tanjabbar, merupakan daerah penghasil kelapa (cocos nucifera) terbesar di Provinsi Jambi. Buah kelapa daerah itu umumnya dibuat santan, kopra dan minyak kelapa. Sedangkan tempurungnya hanya dibuang begitu saja, padahal manfaatnya sangat banyak. Inilah yang dimanfaatkan pengrajin.
Hasil-hasil kerajinan tempurung kelapa terlihat sangat artistik. Designnya cukup modern, kendati hanya terbuat dari bahan-bahan yang dipungut dari tempat sampah. Industri rumah tangga ini mampu memberi penghasilan tambahan kepada para pengrajinnya.
Kerajinan tempurung kelapa terdiri dari beberapa produk, seperti tas, dompet, kalung, gelang, bros jilbab, jam tangan, cangkir dan tasbih. Seluruh produk cukup banyak peminatnya. Terbukti, produksi kerajinan tersebut selalu habis terjual, bahkan harus sampai dipesan.
KUB “Nyiur Hijau” terletak cukup jauh dari ibukota kabupaten Tanjabbar, Kuala Tungkal . Prasarana jalan kesana juga hancur. Fatalnya lagi, di sana belum ada sarana listrik, padahal pengrajin sangat membutuhkan listrik untuk operasional industrinya.
Bengkel kerja KUB “Nyiur Hijau” persisnya berada di Jalan Mangun Wijaya, berupa rumah panggung yang terbuat dari papan. Untuk memenuhi kebutuhan listrik, bengkel itu menggunakan mesin disel sebagai peralatan utama yang dibeli seharga Rp 5 juta.
Kerajinan tempurung kelapa mempekerjakan 10 orang pekerja, terdiri dari berbagai kalangan, seperti guru, ibu rumah tangga, pelajar dan petani. Mereka mulai bekerja pukul 2 siang hingga pukul 5 sore. Hasil dari pekerjaan itu dibagi-bagi sesuai tingkat kesulitan pengerjaannya.
Pekerjanya memiliki tugas sendiri-sendiri, mulai dari tukang bor, penempel butiran tempurung, penjahit hingga pemasang resleting dan tali untuk tas. Selain itu ada pula yang khusus membuat tasbih. Itu juga ada bagian-bagiannya, seperti tukang pasang butiran tempurung dan tukang semir.
Menurut Ketua KUB “Nyiur Hijau”, M Nurun, usaha itu dilakoninya berawal dari adanya pelatihan dan bantuan pemerintah berupa mesin. Hanya saja bahan baku ia harus beli sendiri. Untuk memperoleh bahan baku tempurung, Nurun tidak kesulitan karena banyak dibuang orang.
Kerajinan tempurung ini sudah punya pangsa pasar tersendiri, diantaranya pada acara haulan yang diadakan setiap tahun dan di Bandara Sultan Thaha Jambi. Produk tersebut kerap dijadikan oleh-oleh untuk dibawa ke Jakarta, bahkan luar negeri, seperti Jepang dan Amerika.
Proses pembuatan kerajinan tempurung tidak terlalu sulit. Selain bahan-bahannya mudah didapat, pengerjaannya juga tidak membutuhkan banyak tenaga. Pembuatan tas, dompet, tasbih, kalung dan gelang hampir sama.
Produk kerajinan tempurung ini dijual dengan harga bervariasi. Tas bertali dijual Rp 150 ribu, tas tanpa tali Rp 100 ribu, dompet Rp 25 ribu hingga Rp 40 ribu, gelang Rp 5 ribu, kalung Rp 15 ribu sampai Rp 20 ribu dan tasbih Rp 10 ribu per unit.
Keistimewaan barang-barang dari tempurung kelapa adalah keunikannya, karena jarang dibuat oleh pengrajin lain. Kemudian dari segi daya tahannya. Kerajinan ini bisa tahan seumur hidup, sesuai dengan daya tahan tempurung.
Pengrajin “Nyiur Hijau” bisa meraup untung jutaan rupiah. Hasil penjualan dompet bisa untung Rp 3 juta rupiah sebulan. Tasbih untungnya bisa 50 persen. Dari pesanan 1.000 buah tasbih untuk kebutuhan haul didapat laba sekitar Rp 5 juta. Belum lagi dari produk tas, dompet, kalung dan gelang.
Kerajinan tempurung kelapa di Tanjabbar terinspirasi dari banyaknya tempurung kelapa yang terbuang percuma. Kerajinan itu mulai dikembangkan 2008 lalu. Tahun 2009 pemerintah setempat mendatangkan tenaga pelatih khusus dari Lamongan, Jawa Timur.
Kasi Bina Usaha Industri Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Promosi Daerah (Disperindagproda) Tanjabbar, Zuelfa, menjelaskan, dari 10 orang yang dilatih hanya 2 orang yang bisa dibina. Dari 2 orang itu kini pengrajinnya berkembang menjadi puluhan orang.
Produk kerajinan tempurung kelapa di Tanjabbar akan terus dikembangkan. Salah satu produk yang akan dikembangkan adalah peti mati berlapis tempurung kelapa. Alasannya, selain bentuknya high class, harga peti mati mewah cukup menjanjikan dan proses pembuatannya tidak sulit.
Menurut Kabid Perindustrian Disperindagproda Tanjabbar, Nuzul Karim, industri rumah tangga tersebut juga akan dikembangkan ke kerajinan lain, seperti figura, tegel rumah dan meja tamu.
Kerajinan tempurung kelapa KUB “Nyiur Hijau” mendapat perhatian dari Ketua TP PKK Tajabbar, Hj Erlita Usman. Produk-produk kerajinan itu akan dibantu promosinya pada berbagai even, antara lain HUT DKI Jakarta dan di pasaran luas di daerah Tanjabbar sendiri.
| foto-foto : doddi irawan |
Kerajinan tempurung khas Tanjabbar diperjual-belikan di Bandara Sultan Thaha Jambi. Peminatnya lumayan banyak. Malah untuk beberapa jenis barang, seperti dompet, gelang dan tasbih sempat kehabisan.
Penjaga galeri seni kerajinan khas Jambi di Bandara Sultan Thaha, Elma, mengungkapkan, kerajinan yang paling laris adalah dompet ukuran sedang. Saat ini persediaan dompet sedang di galeri itu sedang habis dan masih menunggu pengiriman.
Kendala terbesar dalam pengembangan industri rumahan tempurung kelapa adalah belum tersedianya aliran listrik. Lantaran itulah, Bupati Tanjabbar, H Usman Ermulan, akan memberi bantuan Rp 100 juta untuk desa-desa yang belum terjangkau listrik, termasuk Desa Tungkal-I.
“Anggaran itu sudah disetujui DPRD. Dalam waktu dekat dananya segera dikucurkan. Pengadaan listrik ini seluruhnya dikelola oleh pihak desa masing-masing,” kata Usman pada infojambi.com, di rumah dinasnya, belum lama ini. (infojambi.com/DODDI IRAWAN)
Keyword: kerajinan tempurung kelapa, oleh-oleh tanjab timur, tanjab timur, tempurung kelapa
Artikel Berkaitan:

