KUPU-KUPU KAIN BELACU
Inilah salah satu cerpen dalam buku “Negri Cinta Batanghari”
KUPU-KUPU KAIN BELACU
Oleh Tommy Pandiangan
Ranjang tua itu berkereot ketika kududuki pinggirannya. Sembari membiarkan keletihan pelan-pelan menguap dari tubuhku sepulang sekolah, kupijiti kaki kurus keriput milik wanita yang terbujur di atas ranjang. Wanita yang kupanggil Emak itu sangat senang melipat kupu-kupu kertas, yang kemudian ia gantungkan di langit-langit atas ranjangnya.
Jika senggang Emak akan berbaring menengadah pada kerumunan mahkluk palsu itu, sembari bercerita apa saja tentang masa lalu keluarga kami. Seakan kertas-kertas yang dilipatnya itu dapat mendengar keluh kesah dan ceritanya tentang sebelas tahun silam, tentang beberapa anak ayamnya yang dikerat musang, tentang kampret yang membuat lelubang hitam buah alpukat di pekarangan, atau juga tentang sarapan tadi pagi yang tak kuhabiskan.
Dan yang paling kusenangi adalah bilamana Emak bercerita tentang selembar kain belacu, yang ia tarik dari dalam lemarinya ketika suatu hari sepulang sekolah sekujur kulitku terasa perih, amat perih. Emak segera membebatkan kain kasar dan apek itu ke sekujur tengkuk dan rambutku, kecuali wajah. Dan ajaib, rasa perih itu tiba-tiba hilang. Sehingga setiap hari kemana pun aku pergi harus mengenakan kain belacu itu. Pernah kutanyakan kepada Emak mengapa bisa demikian, ia hanya bilang bahwa kelak suatu hari aku akan mengerti.
Tak ada hal lain yang ia lakukan selain bercerita pada kupu-kupu kertas. Sedangkan aku hanya termangu menikmatinya, karena memang Emak menganggapku tak ada. Hanya kupu-kupu kertas itulah kepunyaannya. Padahal dahulu Emak sangat benci sekali pada kupu-kupu. Ia beranggapan kupu-kupulah penyebab bunga-bunganya tak jadi berkembang. Katanya kupu-kupu itulah yang menghisap warna-warna bunga agar sayapnya tetap terlihat cantik. Maka jika ada kupu-kupu yang mengitari kuntum bunga-bunganya segera saja ia usir dengan kibasan sapu lidi.
***
Tak ada kerisihan bagiku meskipun celotehan Emak kadang sangat tak tepat waktu. Bisa saja di tengah malam ia terbangun kemudian mengoceh sampai tertidur kembali. Bagiku setiap ceritanya bagaikan potongan-potongan sisa kenangan kehidupan sebelas tahun silam yang masih dapat kunikmati. Sebelum aku dan Emak meninggalkan rumah untuk mengungsi ke tempat ini. Tempat yang sebelumnya, bahkan dalam pikiranku yang paling terburuk pun tak pernah terpikirkan. Namun mau bagaimana lagi. Nahkoda biduk yang seharusnya melabuhkan kami menuju dermaga kebahagiaan, malah menjerumuskan ke dalam amukan ombak kesengsaraan.
Tengah malam Bapak mengangkat tubuh kecilku dari kasur. Lalu membawanya menuju ruang tamu yang ternyata telah menunggu seorang lelaki bermantel hitam dan tak dapat kukenali. Ia dan Bapak bercakap-cakap dengan suara amat lirih, seakan-akan ada yang disembunyikan. Meski aku pura-pura tertidur namun aku tak paham apa yang tengah mereka bicarakan.
Lelaki itu sempat merenggut kerah baju Bapak, namun Bapak tak berani berbuat apa-apa. Padahal jika sedang mabuk, ia bisa begitu buas terrhadap aku dan Emak.
Sebentar kemudian lelaki bermantel menyerahkan sesuatu dalam bungkus plastik hitam. Entah apa isinya, mungkin sangat menyenangkan hati hingga menimbulkan sungging licik di wajah Bapak.
Hujan bertambah deras, gelegar petir membuat nyaliku terbirit-birit. Percakapan mereka yang disembunyikan suara hujan diakhiri dengan penyerahan sebuah anak kunci dari tangan Bapak. Pria bermantel itu pun menyeringai layaknya binatang.
Ah, Emak, Emak! Aku baru menyadarinya. Suara jeritan dari balik pintu gudang di dapur itu suara Emak. Ia menggedor-gedor pintu ingin keluar. Ingin rasanya aku berlari dan mengeluarkan Emak. Namun entah ke mana semua keberanianku. Aku sangat membenci diriku sendiri. Sangat benci!
Bapak pun membawaku ke luar rumah. Jeritan Emak semakin keras. Dadaku serasa teraduk perih. Dari kejauhan kulihat lelaki itu melepas mantelnya dan menenteng anak kunci itu menuju gudang. Dalam gerimis yang gelap masih sempat kudengar sayup-sayup jeritan Emak, sebelum Bapak membawaku menjauh ke sebuah pondok kecil di tengah ladang untuk beberapa saat. Dan ketika gerimis reda, Bapak membawaku kembali ke rumah. Ingin sekali aku berlari menemui Emak, namun ketakutan yang teramat menahan langkahku. Hingga keesokan paginya, kujumpai Emak telah kehilangan seluruh hidupnya. Ia seperti seonggok tubuh tak berpenghuni. Dan saat itulah gejolak benciku pada Bapak menggapai puncaknya.
***
Setiap kali pulang sekolah, masih dapat kulihat masa lalu itu seperti tercecer di jalan ini. Jalan kecil yang terhimpit gang di bawah rindang pepohonan. Masih dapat kurasakan kaki-kaki kecilku dikerubuti perih kerikil tajam dan tusukan rumput ilalang. Di bawah remang bulan dua anak beranak menyusuri jalan mencari sebuah alamat, yang ternyata terletak di sebuah kampung lokalisasi. Untunglah, di tengah kemalangan bertubi-tubi masih ada setitik keberuntungan yang masih sudi menghampiri mereka, hingga kemudian mereka diterima dengan hangat oleh seorang lelaki tua yang biasa dipanggil Pak Wo.
Entah darimana hubungan kekeluargaan kami dengannya. Sebab aku mengetahuinya hanya dari secarik kertas yang dulu pernah diam-diam disalin Emak dari catatan Bapak. Kala itu Emak memang mau minggat dari rumah, akibat tak tahan dengan kebuasan Bapak pada kami berdua, tetapi niat itu diurungkannya. Entah mengapa ia masih berharap cercahan cahaya bahagia menyinari rumah kami.
Selang dua tahun keberadaan kami di wisma ini, Pak Wo pun meninggal dunia. Bisnis wisma kemudian dialihkan kepada saudara kandungnya. Dan wisma ini pun menjadi semakin ramai, para wanita muda silih berganti. Hingga tak ada lagi yang kukenali karena begitu singkatnya keberadaan mereka. Alasannya supaya pelanggan tidak lantas jenuh. Dan memang terbukti wisma ini pun jadi semakin ramai.
***
Malam ini langit begitu cerah. Bulan bulat genjah bertengger di sudut jendela kamar. Emak khidmat mendengarkan kemeresek radio empat baterai di samping bantalnya. Sembari bercakap-cakap seperti biasa dengan kumpulan kupu-kupu kertas yang bergelantungan di atas ranjangnya.
Sudah seminggu ini Emak selalu terbangun di malam hari sambil terengah-engah. Ia bermimpi buruk tentang Bapak. Ah, padahal tak ingin lagi kudengar lagi nama Bapak. Apakah ini akan beralamat lagi kepada keburukan. Aku selalu berdoa agar itu tak pernah terjadi. Takkan pernah.
Di kamar remang ini kuperhatikan lagi wajahku dalam pantulan cermin. Aku tersenyum memandang wajah dengan balutan kain yang dulu kuanggap sangat konyol ini. Pernah suatu kali kucoba melepas kain ini akibat tak tahan dengan tatapan asing orang-orang seisi kampung. Tetapi rasa pedih itu kembali hadir, terlebih lagi tatapan mata orang lain pada kulitku yang tersingkap serupa jilatan api yang menyengat. Sehingga akhirnya kukenakan lagi kain ini, dan aku sama sekali tak menyesal. Karena kuyakin inilah isyarat kesucian yang dikirimkan Tuhan padaku. Ah, Emak, andai kau mampu mendengar ceritaku akan keajaiban ini. Kupeluk tubuh Emak, ia tak menggubris. Kunikmati setiap kehangatan tubuhnya, yang menjalari ruang kerinduanku yang kini runtuh.
***
Ah, benar nian firasatku. Ternyata kemalangan memang masih betah bertengger di pundak nasib kami. Pagi itu ketika aku akan berangkat meninggalkan rumah. Di ruang tengah lelaki itu kini berdiri. Darahku terkesiap, dan kaki terasa begitu berat bagai menghunjam ke bumi. Ia memandangku dengan tatapan yang membuat batinku makin kelu. Tatapan yang membuat kebencianku selama sebelas tahun itu kini kembali kambuh dan benar-benar memuncak.
“Akhirnyo kito ketemu, Nak! Sudah lamo Bapak nyari kalian! Ayo kito balek!”
Seperti keretap gemuruh di terik siang, kata-kata itu makin membuatku tak percaya. Dan entah bagaimana kemudian tubuhku telah terduduk di sofa sedangkan didepanku Bapak tengah mengurai alasannya panjang lebar demi meyakinkanku.
Sedari tadi kecamuk dalam dada belum bisa kuredam. Lidahku kelu dan tak mampu mengeluarkan kata barang sepatah pun. Betapa mudah bagi Bapak yang telah membuat kami seperti ini, datang dan menyuruh kami pulang seakan-akan tak pernah terjadi apa-apa.
“Cukup!” tiba-tiba telapak tanganku telah mendarat keras di atas meja. Bapak terdiam. Seluruh wanita penghuni kamar wisma ini keluar, untuk memastikan apa yang sedang terjadi, termasuk beberapa pengunjung yang menginap sejak semalam tadi.
Mentah-mentah kutampik ajakan Bapak hingga kami pun berdebat panjang. Airmataku berderai sembari menumpahkan kekesalan batin kami selama ini terhadapnya. Sebenarnya aku tak ingin begini, sebab bagaimana pun ia adalah Bapakku. Tetapi hati kecilku tetap tak terima. Karena semua yang ia rampas dari Emak tak akan pernah kembali.
Merasa menemui jalan buntu, Bapak menunjukkan perangai diri sesungguhnya. Ia lantas mencengkram lenganku hingga terjadi tarik menarik yang sengit antara kami berdua. Kulihat ke sekitar, orang-orang mulai ramai berdatangan menyaksikan kegaduhan yang kami ciptakan pagi ini.
Di puncak kegaduhan itu Bapak menarik kain belacu dari kepalaku sehingga rambutku terburai, lalu tiba-tiba rasa pedih dan panas langsung menyerbu sekujur kulitku. Aku berteriak dan meminta tolong, namun tak ada yang menggubris. Malah tatapan mata mereka membuat kulitku semakin pedih tak terperi. Setiap pori kulitku yang tersingkap dari kain belacu itu kini mulai merembeskan darah. Makin lama makin mengucur membasahi pakaianku. Orang-orang yang memandangiku kini nampak menjadi jijik. Dan dalam diamnya mereka pun memihak apa yang tengah dilakukan Bapak.
Untunglah, di saat tarik menarik berlangsung kaki Bapak menyundul meja sehingga ia tersungkur. Dan aku pun lari menuju kamar karena tak ingin lagi meninggalkan Emak sendiri. Walau harus kujumpai maut sekalipun, aku tak merasa takut.
Di kamar itu Emak sedang berbaring menengadah pada kumpulan kupu-kupunya yang bergontai dimain-mainkan angin. Aku langsung memeluknya. Sementara di luar amarah Bapak sedang meletup-letup. Ia gedor pintu kamar sembari meneriaki namaku. Aku takut sekali, dan menangis di pangkuan Emak sambil mengiba kepadanya.
‘Mak, untuk sekali ini bae, Mak… tolong Rima!” ratapku pada Emak yang semakin diam.
Di luar, Bapak yang telah kalap menerjangi pintu kamar. Aku kalut bukan kepalang lalu kuguncang-guncang lagi tubuh Emak yang tetap tak bergeming. Tapi ia malah memejamkan mata, lalu dengan sangat lirih mengucapkan namaku. Seketika Angin berhembus kencang meloncati jendela kamar. Menyibak kerumunan kupu-kupu kertas di langit-langit ranjang Emak hingga berjatuhan ke lantai.
Sekujur tubuh Emak kurasakan sedingin udara subuh. Lalu perlahan-lahan tubuhnya yang terbujur itu remah seperti selembar kain rapuh. Sobek dan menghambur ke udara seiring angin jendela yang menerobos ke dalam kamar. Tubuh Emak kian lama kian habis menjelma ribuan kupu-kupu nan semarak warna. Darahku seperti mampat, tak dapat berkutik akibat menyaksikan ini.
Pelan-pelan ribuan kupu-kupu cantik itu mengerubungi seluruh tubuhku hingga tak nampak. Tak bersisa. Dan rasa perih di kulitku kini tak terasa lagi. Lumuran darah pun mengering dan hilang. Kurasakan pelukan Emak yang bertahun-tahun kurindukan bagai kembali hangat mendekapku. Aku tak ingin berpisah lagi darimu, Mak.
Dan ketika terjangan Bapak yang terakhir menjebol pintu, ia pun terheran-heran karena hanya mendapati sebuah kamar kosong dengan ranjang tua yang diseraki ribuan kupu-kupu kertas sampai ke lantainya.
****
Tommy Pandiangan. Lahir di Palembang 8 januari 1987, penulis alumnus UNJA, Jambi. Aktifitas sekarang masih asyik mengajar serta aktif di FLP Jambi. Mulai terjerumus dalam dunia kepenulisan sejak setahun yang lalu dan kini secara iseng juga masih asyik berduet “New Kick On The Blog” dalam blog sastra punaimerindu.blogspot.com. Jangan lupa mampir ya!
Keyword: Cerpen Jambi, kumpulan cerpen jambi, kupu-kupu kain belacu, negri cinta batanghari, Tommy Pandiangan
Artikel Berkaitan:

