Rumah Tradisional Kerinci Makin Langka



JAMBI — Rumah tradisional Kerinci, yakni umoh laheik atau umoh panja, keberadaannya kini semakin langka, bahkan bisa dikatakan telah punah.

“Rumah tradisional Kerinci itu kini telah habis tergantikan oleh rumah-rumah dengan bangunan beton yang permanen. Sangat sulit menemukan ikon itu kini,” ujar peneliti kebudayaan Kerinci, Iskandar, di Kerinci, Senin (23/5/2011).

Menurut Iskandar, hal tersebut terjadi disebabkan berbagai faktor, seperti indikator telah berubahnya pola pikir dan gaya hidup masyarakat menjadi lebih modernis, individualis, dan praktis seperti sekarang, juga karena semakin meningkatnya perekonomian dan kesejahteraan masyarakat.

Penyebab lainnya juga bisa karena bencana alam, khususnya kebakaran.

Menurut Iskandar, umoh laheik atau umoh panja adalah rumah-rumah rakyat, yang ditempati oleh keluarga-keluarga. Jadi, keberadaannya bukanlah sebagai rumah adat seperti halnya rumah gadang di Sumbar. Untuk rumah adat, mereka punya sendiri yang disebut umoh sko.

Umoh laheik, katanya, dibangun sambung-menyambung satu dengan yang lainnya sehingga menyerupai gerbong kereta yang sangat panjang, sepanjang larik atau lorong desa, dibangun di sisi kiri dan kanan sepanjang jalan.

Konstruksinya tanpa menggunakan fondasi permanen, hanya tumpukan batu alam tempat tiang ditenggerkan, juga tanpa menggunakan paku, hanya mengandalkan pasak dan ikatan tambang ijuk. Atapnya pada masa awalnya bukan seng atau genteng seperti masa sekarang, melainkan hanya jalinan ijuk. Dindingnya dulu adalah pelupuh (bambu yang disamak) atau kelukup (sejenis kulit kayu). Lantainya papan yang di-tarah dengan beliung. Material-material itu tidaklah memberatkan rumah.

“Di rumah panggung tersebut, tempat tinggal tumbi (keluarga besar) adalah di bagian atas, dengan sistem sikat atau sekat-sekat seperti rumah bedeng di zaman sekarang ini. Setiap keluarga menempati satu sikat yang terdiri dari kamar, ruang depan, ruang belakang, selasar, dan dapur,” papar Iskandar.

Setiap sikat memiliki dua pintu dan dua jendela, yakni bagian depan dan belakang. Material pintu adalah papan tebal di-tarah beliung. Di antara sekat sikat terdapat pintu kecil sebagai penghubung.

Jendela yang disebut singap sekaligus merupakan ventilasi angin dibuat tidak terlalu lebar, tanpa penutup seperti layaknya rumah modern saat sekarang, hanya dibatasi jeruji berukir. Kala malam sinap itu hanya ditutup dengan kain horden.

Sementara bagian bawah yang disebut umin sering hanya sebagai gudang tempat menyimpan perkakas pertanian, seperti imbeh, jangki, dan jala, atau terkadang juga menjadi kandang ternak seperti ayam, bebek, kelinci, kambing, dan domba. Tak jarang juga dibiarkan kosong melompong menjadi arena tempat bermain anak-anak.

Di bagian atas loteng terdapat bumbungan yang disebut parra. Atap di dekat parra itu biasanya dibuat lagi singap kecil yang bisa buka-tutup, yang disebut hintu ahai (pintu hari atau pintu matahari). Di situlah keluarga bersangkutan sering menyimpan sko (benda-benda pusaka) keluarganya.

Di luar rumah, tepatnya di depan pintu, biasanya terdapat beranda panggung kecil yang disebut pelasa, yang langsung terhubung dengan jenjang atau tangga. Di situ pemilik rumah sering berangin-angin sepulang kerja. Bahkan, tak jarang para tamu pria sering dijamu duduk di atas bangku sambil minum sebuk kawo dan mengisap rokok lintingan daun enau.

Bagian halaman depan rumah sering dipenuhi oleh tumpukan batu sungai sebagai teras sehingga rumah terkesan tidak berpekarangan.

Pekarangan rumah keluarga tersebut sebenarnya berada di halaman belakang yang biasanya sangat luas dan panjang.

Model dan konstruksi arsitektur rumah rakyat itu, kata Sikandar, dapat mencerminkan betapa masyarakat sangat mengutamakan semangat kekerabatan, kebersamaan, dan kegotongroyongan dalam kehidupannya sebagai falsafah pegangan hidup manusia sebagai makhluk sosial.

“Namun, pada masa sekarang keberadaan rumah-rumah tradisional rakyat itu kian hilang karena keluarga pemilik atau ahli warisnya telah menggantinya dengan bangunan beton yang dinilai lebih modis dan modern,” keluh Iskandar.

Sementara sikat-sikat yang masih tersisa lebih karena pemiliknya belum punya uang yang cukup untuk merenovasi rumahnya, atau ahli waris rumah itu tengah berada di negeri orang sebagai perantau sehingganya sisa sikat rumah itu menjadi bagian umoh laheik yang masih ada di situ.

Dulu, kata Iskandar, hampir semua desa induk di Kerinci memiliki tipe umoh laheik yang sama, seperti di Sungaipenuh, Kumun, Tanjung Pauh, Tanah Kampung, Rawang, Semurup, Siulak, Kemantan, Koto Majidin, Jujun, Pulau Tengah, Lolo, Lempur, Seleman, Cupak, dan Sebukar. Namun, sekarang sulit ditemukan rumah dalam keadaan utuh. Yang masih tersisa justru terbengkalai tak terawat sehingga terlihat seperti rumah nenek sihir yang menyeramkan di antara rumah-rumah beton menyerupai istana di sekitarnya.

“Apalagi hingga saat ini tidak ada satu pun rumah tradisional Kerinci yang ditetapkan menjadi benda cagar budaya. Kondisi itu lebih mempercepat punahnya keberadaan umah laheik dari bumi Sakti Alam Kerinci,” ucap Iskandar.

Sumber : antaranews.com

Keyword: , , , , , , ,



Artikel Berkaitan:

Leave a Reply

Copyright © 2010 JTC

Design by Indonesiawebsolusi.com