Sayap Patah merpati
Muhyidin.NR
“Mau yang lebih ajaib, sayang?” suara lelaki itu lebih terdengar sebagai rayuan dibanding hanya sebuah penawaran. Garis-garis wajahnya menegas meronakan sebuah senyum yang menawan. Tanpa mengalihkan tatapan matanya pada gadis itu ia menggulung lengan panjang kemeja hitamnya hingga ke siku. Urat-urat tangannya tampak bertonjolan. Dengan hati-hati (seolah-olah benda itu seketika bisa meledak) ia mengambil sebuah kotak dengan sisi-sisinya seukuran telapak tangannya lalu menaruhnya di atas meja bulat yang bediameter dua kali piring makan.
Gadis itu masih takjub dan membeku. Mulutnya sedikit terbuka. Sesekali matanya berkedip begitu cepat seolah tak ingin melewatkan setiap detik kejadian yang kini ada di depannya. Lelaki itu kini mengambil buah jeruk di meja depan televisi. Lalu buah berwarna orange segar itu dimasukkan ke dalam kotak berjeruji mirip sarang burung itu.
“Siap, sayang?” Lelaki itu tersenyum lagi seolah ingin memberikan energi bagi gadis itu untuk melihat apa yang ia akan lakukan selanjutnya.
“Aaaa!” Nia –gadis kecil itu- terloncat untuk kesekian kalinya begitu lelaki itu menggebrak kotak itu hingga memipih, dan tentu saja jeruk itu menjadi hancur seketika. Serpihannya berserakan ke segala penjuru dan mengotori lantai.
Namun dengan santainya lelaki itu menyapu tangannya, membersihkan baju hitamnya yang terkena percikan, menegakkan kotak itu kembali semula, dan membersihkannya dari sisa-sisa ‘bom jeruk’ tadi.
Mata Nia masih terbelalak. Mulutnya kali ini terkatup erat. Nafasnya tak teratur. Pundaknya sekilas bergetar naik turun. Tangannya mencengkeram keras boneka beruang yang ada dalam genggamannya.
Kemudian laki-laki itu beranjak mengambil selembar kain hitam lalu ditutupkan ke tangan kanannya.
“Satu, dua.. Tiga!” Tepat pada hitungan ketiga kain itu jatuh dan seketika itu pula berkelebat seekor burung merpati. Sambil membelai punggungnya, burung putih yang tampak begitu patuh itu ia masukkan ke dalam kotak.
“Jangaaan!” Teriak Nia. Wajahnya memucat, di benaknya terbayang apa yang terjadi pada buah jeruk tadi akan menimpa merpati itu.
“Jangan takut ya Nia cantik, merpatinya tidak akan kenapa-kenapa. Percaya deh,” rayu lelaki itu. Tanpa menunggu reaksi Nia, ia -sekali lagi- menggebrak, memukul keras kotak itu.
Nia memekik seraya menutup mata dengan boneka beruang kecilnya.
“Lho kok tutup mata, lihat nih merpatinya.”
Perlahan dan dengan tubuh masih gemetar Nia mengintip dari celah ketiak boneka beruang. Kotak itu benar-benar memipih, yang terlihat adalah setumpuk bulu-bulu putih.
“Wah, ke mana merpatinya ya, kok cuma tinggal sayapnya nih?” Lelaki itu menggilirkan pandangannya dari tangan kanan ke tangan kiri, yang kini sama-sama memegang sebuah sayap merpati.
Nia menyipitkan matanya menahan ngeri.
“Ah, coba dibalikin lagi bisa gak ya?” Ditariknya bagian atas kotak itu hingga membentuk kotak seperti semula, dimasukkan lagi dua sayap merpati itu, lalu ditutup dengan selembar kain hitam.
“Sim salabim!” Mata lelaki itu berkilatan. Tangan kanannya mengayunkan sebuah tongkat, sementara tangan kirinya dengan cepat menarik kain hitam itu. Ajaib. Seekor merpati kembali muncul. Utuh dengan dua sayapnya sedikit dikepak-kepakkan.
“Mana tepuk tangannya, sayang?” Lelaki itu tersenyum menatap Nia yang telah menurunkan boneka beruang dari mukanya, dan kini menatap takjub merpati dalam kotak itu.
“Varel, apa yang kau lakukan?!” Tiba-tiba seorang perempuan masuk sambil berteriak. Langkahnya cepat. Sepatu hak tingginya bergemeletuk di lantai. Nia mengkerut mendengar suara itu dan segera berlari masuk ke kamarnya.
“Tenang Sis, aku cuma mau menghibur Nia, bagaimanapun dia kan an.”
“Pergi! Pergi kau biadab!”
****
Suara burung itu mengagetkan sesosok tubuh yang tengah terbaring di antara serakan boneka. Ia bergegas turun dari tempat tidur lalu mendorong kursi hijau plastiknya. Seekor cicak tampak terkejut mendengar bunyi gesekan di lantai dua itu. Sebentar kemudian sebuah jendela kaca berbingkai kayu bercat putih terbuka. Tampak kepala yang mungil condong keluar. Rambut ikalnya yang coklat berjatuhan lau naik turun seolah ada pegas di dalamnya. kakinya yang mungil jinjit di atas kursi plastik yang sebenarnya bisa bergeser sewaktu-waktu.
Seperti seorang teman, Nia meletakkan sebuah boneka ulat di sampingnya lalu mengelus kepalnya. Dua burung merpati yang awalnya terbang setinggi lantai dua tiba-tiba mendarat di tanah. Mematuki entah biji-bijan apa saja yang ada di bawah sana.
Penasaran. Nia melongok apa yang dilakukan dua merpati putih di bawah sana. Namun sungguh naas, pijakan kakinya di atas kursi tak seimbang hingga ia terdorong keluar jendela. Jatuh dan terbanting begitu cepat. Tak berapa detik tubuhnya berdebam di teras samping rumah.
Selain lantai, boneka ulatnya yang ikut terseret jatuh kini merasa juga basah aliran darah terutama dari kedua pangkal lengan gadis malng itu.
****
Sorak sorai penonton membahana begitu Varel mengakhiri pertunjukannya yang spektakuler. Puluhan kain warna-warni yang ia gunting kecil-kecil tiba-tiba menjelma puluhan merpati begitu ia terbangkan ke udara. Dengan sangat elegan ia mengangkat topi hitamnya dan sedikit membungkuk.
Begitu ia kembali ke belakang panggung dua orang perempuan yang tadi menjadi asistennya mendekat dengan langkah yang sama-sama genit. Keduanya bergelayut di kiri kanan lengan Varel.
“Sukses besar kita kali ini,” kata perempuan di sebelah kanan sambil membenarkan letak dasi kupu-kupunya.
“Iya, kita akan pesta sampai pagi sayang,” Varel mengusap lembut dagu perempuan itu.
“Maaf Pak ada yang mencari,” sesorang datang tergopoh-gopoh.
“Sudah kubilang aku tak…,” tiba-tiba suaranya tercekat manakala seorang gadis kecil muncul dari balik tirai panggung.
Bajunya putih kusam dan lusuh. Sebuah boneka ulat yang tak kalah kumalnya terikat di kakinya, terseret-seret menyapu lantai.
Gadis kecil itu mendekat. Tak sepatah katapun terlontar dari mulutnya. Hanya matanya yang terus menatap mata Varel dan makin berkaca-kaca. Dua lengan panjang bajunya berkibar-kibar tertiup kipas angin di sudut panggung. Kosong.
Varel tiba-tiba terjatuh berlutut. Segenap persendiannya serasa patah semua. Sementara Nia terus berdiri mematung. Air mata meleleh di pipinya. Bibirnya bergetar namun tak ada kata yang terucap darinya. Di benaknya terbayang lelaki itu mengeluarkan kotak jeruji yang lebih besar untuknya. Di benaknya….
Keyword: Cerpen Jambi, Jambi, penulis jambi, Sayap Patah merpati
Artikel Berkaitan:
- » Ratusan Pengunjung Ramaikan Hutan Kota
- » Usulan Pembentukan Forum Komunikasi Komunitas Fotografi Beroleh Apresiasi Positif
- » Sultan Luruskan Sejarah Melayu Jambi
- » Batik Jambi Kini Semakin Diminati
- » Dua ‘Pinutur’ Jambi Diusulkan Jadi Maestro Tutur
- » PEDULI ANAK SUKU DALAM DJAMBI
- » Tes Landing Bandara Bungo Batal
- » Manggis Kerinci Diekspor Orang Luar
- » Pembuatan Paspor di Jambi Menurun
- » Pulau Berhala Tetap Masuk RTRW Jambi
