Taman Air Mata
Taman Air Mata
Oleh Berlian Santosa
Lelaki lusuh itu berjalan pelan merunduk, seakan merenungi nasib setiap jengkal tanah yang dilaluinya. Sesekali ia mendongak keatas. Awan hitam bergelombang menggelayut, suram seperti nasibnya kini.
Perutnya yang lapar ia tahan. Sedari tadi ia memperhatikan restoran padang “Salero Kito” begitu ramai dikunjungi tamu-tamu yang berkantong untuk mengisi lambung besar mereka. Ia hanya bisa menelan ludahnya yang terasa kering ketika orang-orang didalamnya begitu berselera menyantap hidangan yang ada. Senang, gelak tawa riang, seakan bagi mereka ajang makan siang adalah rutinitas yang biasa saja. Perut keroncongan bukanlah alasan utama tamu-tamu berkelas itu ada di restoran mewah di pusat kota ini. Baginya, makan siang di rumah makan pinggir jalan yang termurah sekalipun di kota ini, adalah mimpi terindah disiang bolong.
Seorang pengemis menengadahkan mangkok kepada orang yang lalu lalang di depan restoran itu. Dengan dua anak balitanya yang kumal dan bau, ia berharap ada belas kasihan pengunjung. Seorang berpakaian safari, acuh tak acuh memberikan selembar ribuan, berlalu sambil menggandeng wanita cantik, ia menghardik, “Dasar gembel. Apa tidak ada kerjaan lain, hah!?” Pengemis itu menunduk hina sambil berkata dalam hati, “Inilah pekerjaan saya, Tuan.”
Lelaki itu kembali berjalan menyusuri kota yang hiruk pikuk dengan manusia yang semakin sibuk dengan dirinya masing-masing. Entah ia tak tahu, harus kemana berjalan. Mengikuti langkah kaki saja.
Sampailah kiranya ia diperempatan lampu merah yang padat. Terlihat banyaknya massa yang berkumpul sengaja mencari perhatian orang. Kendaraan berjalan merayap. Atraksi teatrikal digelar. Oh, rupanya mereka adalah para ibu rumah tangga. Para perempuan yang seharusnya berada di rumah mengurus anak & keluarga, kini tak tahan lagi untuk menyuarakan unek-uneknya di jalan raya. “Turunkan harga sembako, kami bisa mati kelaparan.” Teriak mereka bersahut-sahutan sambil memukul-mukul panci, wajan, kaleng, botol air mineral. Dan serunya lagi ada adegan memasak batu dengan kompor minyak tanah. “Tuan…tuan…, berilah anak kami beras. Kami sudah susah menanggung hidup. Semua mahal dan susah didapat. Kemana kami mengadu?”. Jerit wanita lainnya. “Aku bukan tuanmu, aku miskin sepertimu. Maaf carilah yang lain.” Begitu kata lelaki itu, sambil menyeret hatinya yang luka, berat untuk melangkah pergi.
Di sudut lain mahasiswa lebih agresif berdemo, reaktif pula dikejar-kejar petugas pengamanan kota. Pedagang kaki lima & asongan tak luput dari sasaran. Adegan tarik-menarik. Mereka pasrah ketika barang-barang penyambung hidupnya diangkut keatas truk.
Ia bingung menyusuri lorong-lorong pasar yang sepi pembeli. Harga yang melangit tak mampu terjangkau lagi. Seorang penjual yang masih muda menawarkan dagangan kepadanya. “Tuan, belilah satu ikat saja sayuran dan sekantong buah-buahan ini. Kami perlu ongkos berobat anak kami yang demam tinggi pagi ini. Belilah tuan…”Begitu pintanya menghiba-hiba.
Kembali lelaki itu hanya menggeleleng lemah. Tak berdaya ia menatap ratapan penjual dihadapannya itu. “Kalian salah orang. Maaf aku miskin, aku tak punya uang untuk membelinya. Permisi.”
Perutnya semakin melilit menjadi-jadi, menjerit-jerit didalam sana. Sekelebat bayangan Sumanto Si Pemakan Daging manusia hadir. “Astaghfirullah…”ucapnya lirih. Tak sudi kiranya kelaparan membuatnya menjadi pengikut setan.
Langkah kakinya kini terhenti di sebuah gerbang yang pagarnyapun sudah mau ambruk dimakan waktu. Entah kenapa seperti ada memanggilnya kedalam sana. Ia bergeming tapi seakan ada bisikan halus, bertalu-talu menyeretnya agar terus masuk. Gerbang tadi menghantarkannya pada sebuah taman yang kumuh dan tidak terawat. Rumput liar menggagahi keelokan taman ini. Wahana dari kayu, rapuh dimakan rayap, yang terbuat dari besi telah banyak berkarat. Takkan ada orang yang nyaman berlama-lama ditempat ini. Ini bukan tempat yang tepat untuk berekreasi.
Namun ketika ia mendapati dirinya berada ditengah taman, maka inilah seperti mimpi-mimpi indah yang tak sedikitpun pernah djumpainya. Bagai seorang musafir yang menemukan oase ditengah padang gurun tandus. Ada sebuah kolam mini yang ditengahnya terdapat air mancur yang masih mengalir, entah dari mana. Kolam ini cukup bersih. Ada beberapa ikan yang masih bisa bertahan hidup didalamnya. Ia mendengar suara orang yang memanggil-manggilnya. “Tuan..tuan kemarilah. Disini saja bersama kami. Heran, tak satupun manusia yang dijumpainya ditempat ini. Hanya cicit burung gereja yang terbang dan hinggap di pepohonan sekitar. Sepi menggelayut. Desir angin sesekali menggerisik pucuk-pucuk pohon bambu yang semakin meranggas menjulang tak beraturan.
“Tuan…tuan…” Pangil suara itu lagi. Ia menoleh. Kesegala arah. Tapi tetap tak satupun ia menemukan asal sumber suara. Dan ketika ia benar-benar menemukannya, terkejutlah ia. Keheranannya terjawab bahwa kolam itulah yang memanggilnya.
Air dalam kolam itu sangat jernih, walau dedaunan berserakan di permukaannya. Ia semakin mendekat, mengenali aktivitas dan keindahan di dalam kolam. Entah mengapa tiba-tiba ia tersenyum dan hatinya berbunga-bunga tatkala melihat pemandangan isi kolam.
Pengemis dengan dua anak balitanya yang dilihatnya tadi, lagi sibuk melayani tamu di restorannya yang sederhana. Senyumnya ramah menyapa setiap pengunjung. Anak-anaknya berpakaian bagus dan bersih. Tubuhnya gemuk-gemuk dan sehat. Ketika melihat lelaki lusuh itu di bibir kolam, iapun berujur,”Kemarilah Saudaraku. Disini banyak makanan untukmu. Kami sudah tidak kelaparan lagi kini. Kenapa diam?..”Kata perempuan dalam kolam itu lagi. “Ayo masuklah.” Ia melambai-lambaikan tangannya serupa orang mengajak. Lelaki itu tercekat.
Silih berganti ia menantap pemandangan menakjubkan didalam sana. Ibu-ibu di perempatan lampu merah tadi, semua berbahagia. Tak ada yang kesusahan. Mereka sedang bergembira didalam taman indah bersama anak dan suami tercintanya. Semua. Ya, semua orang sedang memanggil-manggilnya,”Wahai Saudaraku yang diluar sana, marilah ikut kami. Disini kami senang sekali.”
Pedagang di pasar sudah ramai pembeli dengan untung besar. Di sudut-sudut kota tak ada lagi gelandangan. Penjual asongan sudah hidup mapan. Tak ada lagi air mata duka, kesedihan, nestapa dan lara. Semua berbaur jadi kebahagian bersama. Oh, indahnya.
Lelaki lusuh itu semakin dalam menjulurkan tangannya ke dalam kolam. Semakin dalam, hingga tangan-tangan di dasar sana menggapai-gapai memegang erat, merayu dengan bisikan, meletup-letupkan ilusi hingga pria itu mabuk keapayang dibuatnya.
***
Pagi-pagi sekali, kota yang tidak hirau dengan kenestapaan penduduknya ini, dikejutkan oleh sesosok mayat yang terapung di dalam kolam di sebuah taman kota yang tak terawat. Tubuh yang tidak dikenal dan jelas tidak bermuatan berita di surat kabar itu, bagai sampah, dicampakkan ke dalam sebuah truk kebersihan kota. Entah mau dibuang kemana jasadnya ini. Yang pasti kini, ia sudah tidak merasa kelaparan lagi.
*pernah dimuat di Jambi Independent
Keyword: cerpen, Cerpen Jambi, Jambi, karya sastra, kumpulan cerpen, kumpulan cerpen jambi, negri cinta batanghari
Artikel Berkaitan:
- » Ratusan Pengunjung Ramaikan Hutan Kota
- » Usulan Pembentukan Forum Komunikasi Komunitas Fotografi Beroleh Apresiasi Positif
- » Sultan Luruskan Sejarah Melayu Jambi
- » Batik Jambi Kini Semakin Diminati
- » Dua ‘Pinutur’ Jambi Diusulkan Jadi Maestro Tutur
- » PEDULI ANAK SUKU DALAM DJAMBI
- » Tes Landing Bandara Bungo Batal
- » Manggis Kerinci Diekspor Orang Luar
- » Pembuatan Paspor di Jambi Menurun
- » Pulau Berhala Tetap Masuk RTRW Jambi
