Wajah Kera dalam Sebuah Cermin
“Kera itu ada di kepala dan wajah manusia penipu.” begitu nasehat Midun ketika memangkas rambutnya di toko ku.
Gunting dan sisir menari-nari lincah diatas kepalanya yang lebar itu.
Lalu ia memungkasnya,” Jika dikasih pisang ia senang , terdiam, bungkam dan tak perlu bersusah payah lagi mengeluarkan bunyi kaleng rombeng bersahutan. Ia menerima takdir sebagai pecundang yang mudah disuap.”
“Oh ya?” kataku sok menimpali.
Midun tambah semangat,” Ya begitulah watak kera yang tak tahu diuntung. Jika belum dapat kehendaknya, mau ia melempar apa saja, berbuat onar dan bertindak seperti pemandu sorak yang lagi demo di depan kantor dewan.”
Nasehat itu, berulang-ulang ia sampaikan setiap bulan awal minggu kedua saat rambutnya kupermak.
Midun bersimpati ketika aku menyampaikan keganjilan-keganjilan yang kutemui. Kepala dan wajah kera di depan cermin.
Pengalaman yang belum pernah kutemui selama 10 tahun berprofesi sebagai tukang cukur .
***
Oh Tuhan, tengoklah. Kenapa aku bersumpah, tak mau lagi menjadi tukang potong rambut orang. Aku tak sudi melakukan pekerjaan itu lagi. Bayang-bayang itu tak kan pernah sembuh dalam labirin ingatanku. Berputar, menari sepanjang kuhirup bau minyak sabun dan bedak yang menempel di wajah-wajah yang tercukur itu. Walau kepala-kepala manusia dengan berbagai tekstur rambutnya; ikal, lurus, keriting dan warnanya rupa-rupa; hitam, beruban, pirang, telah menjadi mangkok pencari nafkah penyambung hidup.
Tidak, tak kan lagi sudi kusentuh.
Namun pagi ini di rumahku, lebih tepatnya bekas toko, seseorang lelaki berkacamata hitam sambil menenteng sebuah tas coklat, berpenampilan rapi mendatangi tempat ini dengan mobil plat merahnya. Dilihat-lihat, orang terpandang rupanya. Kalau boleh kutebak, seorang karyawan bank atau staf pejabat. Tak mungkin tukang sapu berpayah-payah menipu diri mematut sedemikian rupa seperti itu. Mungkin mau tanya alamat, pikirku.
Aha! Lama tak jumpa sahabat lama. Si Midun rupanya. Pangling aku. Ia kiranya telah naik kelas. Kenapa ia datang ketempatku? Mau apa dia?
Minggu lalu, baru saja ia berkothbah panjang lebar di mimbar jumat sebuah masjid di utara kota kami. Di mimbar itu, Midun serasa malaikat yang menggelontorkan ayat-ayat, doa-doa dan puji-pujian kepada Tuhan. Ia berbicara tentang syukur dan anugerah akan hidup seorang hamba. Berpeci hitam dan bersorban corak kotak warna merah putih yang dililitkan di lehernya, pakaian yang dikenakannya serba putih terusan panjang, bak seorang kyai baru pulang haji.
Kini, aih..ia telihat lebih kinclong dan necis. Penampilan bak seorang aktor sinetron sedang pergi istirahat makan siang. Hebat. Kagum aku dibuatnya. Kukira ia memang aktor watak yang pandai bergaul dan menyesuaikan diri dimanapun ia berada.
“Guntingkan rambutku, Nazar!.” pinta Midun padaku yang terlongo setelah ia mengucapkan salam, lalu masuk dan berbasa-basi bertanya kabar.
“Jadi kau telah jadi anggota dewan, ya?” tanyaku heran dan terkagum-kagum saat mengetahui pekerjaan barunya. “Kau tak pernah bilang-bilang. Kalau kutahu, tentu kau yang kucontreng dalam pemilu kemarin.”
Ia tak peduli dan seperti orang yang diburu waktu memintaku untuk memangkas rambutnya yang ikal itu.
Sesaat aku terpana. Bergeming. Berharap ia mengerti akan keinginan ku sekarang.
“Maaf. Aku sudah tak membuka pangkas rambut lagi, kawan.” kuharap kata-kataku tak menyinggungnya. “Toko kecil ini sudah lama tutup.”
“Ah, seperti itukah pelayananmu kini? Kemana larinya pelangganmu?” tanyanya heran. Yang ia tahu, dulu tokoku ini laris dikunjungi banyak pelanggan dari mana-mana.
“Sepikah?”
“Atau…kau telah dapat pekerjaan baru.” ia menatapku tajam tak habis pikir.
Aku menggeleng. Entahlah, bagaimana aku menjelaskan yang sebenarnya kepada Midun, sahabat sekaligus pelanggan setia.
“Kan kubayar jasamu dengan amat sangat pantas.” bujuknya dengan sedikit memaksa. Aku tersenyum kecut.
***
Bukan karena bujukan uang sehingga aku mau meladeni keinginannya. Tidak sama sekali. Hanya ketakenakan hati bila menolak orang yang sampai masuk ke bekas toko pangkas rambut ini, lalu dirinya dengan nekat telah memegang gunting. Bagiku, itu artinya kesialan bila aku menolak seseorang, siapapun dia, apalagi dengan cara memohon-mohon. Aib bila tak melakukannya. Aku tunduk dibuatnya.
Kutepis bayang-bayang yang sempat berkelebat lagi. Aku berdoa semoga tak kan ada kejadian apapun oleh sebab tangan dan mata ini.
Yang membuat lega adalah, Midun seorang yang faham agama dan tentunya orang baik. Kuharap setelah duduk sebagai anggota dewan 9 bulan ini, banyak kemajuan yang dicapai demi rakyatnya.
Layaknya tempat cukur tentu terdapat banyak cermin. Di depanku, Midun telah duduk di kursi. Cermin di toko sekaligus merangkap rumahku, banyak sekali cermin terpasang di dinding rumah kayu ini. Ia bersikap takzim. Siap untuk dipermak rambutnya menjadi apa yang diinginkannya.
Mulanya, tanganku bergerak perlahan, menyisir rambutnya kebelakang. Tak ada kejadian yang ganjil. Lalu dengan mantap mulai menggunting rambut bagian demi bagian. Lama tak bertugas lagi membuat aku sedikit kagok. Midun mulai terkantuk-kantuk.
Namun beberapa saat menjelang finishing, ketika aku mulai menyisir kebelakang, memastikan bahwa tekstur rambut yang diminta sudah sesuai. Rambut-rambut yang jatuh kelantai dari tangkai sisir ini, berubah menjadi ulat-ulat kecil!.
“Astagfirullah!” pekikku dalam hati. Spontan aku mundur hampir terjengkang.
Midun, tak mungkin ia…
Kembali kuambil sisir dan gunting yang sempat ikut terjatuh dari tanganku. Namun lagi-lagi, entah iblis atau sebangsanya. Tiba-tiba didepanku, kepala di cermin berubah menjadi kepala seekor kera yang sedang terkantuk-kantuk. rambutnya hitam, tegak seperti duri landak.
Midun, orang yang kukenal…tak mungkin ia…
Wajahnya…Astagfirullah!. Aku mengucap berulang-ulang dengan dada sesak. Wajahny juga mirip monyet!. Hidung, telinga bahkan mulutnya juga berbulu.
Midun orang yang kuanggap sholeh, tak mungkin ia…
Aku terpapar kebelakang, terhenyak di cermin berikutnya. Mungkin aku telah sinting. Atau mataku mulai rabun. Entahlah…kerongkonganku tercekat seperti dililit tali tambang nan kuat. Tapi ketika ada celah dan tenaga entah darimana, suara yang tercekat itu tiba-tiba keluar cepat, melesat, melolong-lolong panjang, seperti anjing habis dipukuli tuannya.
Tidaaaakkk!!!…
Orang-orang di depan tokoku menarik lengan dan kerah bajuku. Mengekangku agar tidak kabur. Aku berontak, lari kesetanan tak tentu arah.
Dan gilanya lagi, monyet itu. Oh bukan, ia Midun, sahabat yang pandai berkhotbah dan memberi nasehat hidup itu, juga ikut mengejarku!.
Wajah Kera dalam Sebuah Cermin
Oleh: Berlian Santosa
*pernah dimuat di Jambi Independent
Keyword: cerpen, Cerpen Jambi, Jambi, kumpulan cerpen jambi, wajah kera dalam sebuah cermin
Artikel Berkaitan:
- » Ratusan Pengunjung Ramaikan Hutan Kota
- » Usulan Pembentukan Forum Komunikasi Komunitas Fotografi Beroleh Apresiasi Positif
- » Sultan Luruskan Sejarah Melayu Jambi
- » Batik Jambi Kini Semakin Diminati
- » Dua ‘Pinutur’ Jambi Diusulkan Jadi Maestro Tutur
- » PEDULI ANAK SUKU DALAM DJAMBI
- » Tes Landing Bandara Bungo Batal
- » Manggis Kerinci Diekspor Orang Luar
- » Pembuatan Paspor di Jambi Menurun
- » Pulau Berhala Tetap Masuk RTRW Jambi
